banner 728x90

Imbas PPKM Pengusaha Warteg Gulung Tikar

  • Bagikan
IMG 20210806 WA0000
Warung Tegal (Warteg) / Imbas PPKM Pengusaha Warteg Gulung Tikar

PJ. BEKASI – Sejak PPKM diterapkan, Pemerintah Kabupaten Bekasi saat ini fokus dengan penangan pencegahan penyebaran COVID-19, disisi lain banyak warganya harus susah payah mempertahankan perekonomiannya.

Terlebih kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah   dengan membuat PPKM Level 4 yang kini diperpanjang hingga tanggal 9 Agustus 2021. Kondisi seperti ini membuat usaha kecil bisa gulung tikar.

Seperti halnya Pengusaha Warteg Srimulya, yang berada di jalan Pasir Gombong, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, yang mengalami omzet penjualnya merosot jauh lantaran pelan pelan ditinggal pelanggannya.

Diungkapkan oleh sang pemilik warung makan (Warteg) Srimulya, Nur Solihin, menurutnya awal pandemi tahun lalu, kondisi jualannya tidak terlalu parah, hanya mengalami penurunan omset sebesar 30 persen setiap bulannya. Namun belum terkendalinya pandemi covid-19 yang hampir berjalan dua tahun tersebut, membuat Nur semakin merasa was – was bahkan bisa gunung tikar.

“Adanya covid19 tahun lalu itu buat kami, bisa turun 30 persen, sekarang ditambah kebijakan baru lagi yaitu adanya PPKM level 4, usaha saya semakin sepi,”keluh Nur mengungkapkan saat diwawancara potretjabar.com Kamis, (05/08/21).

BACA JUGA :  Bantu Kinerja Pj. Bupati Bekasi Atasi Tanggul Citarum Kritis, Anntara Bakal Bersurat ke Presiden

Usaha Warteg yang dimilikinya semakin hati semakin sepi semenjak adanya PPKM Level 4 tersebut, hal itu menurut dia ada tiga faktor. Pertama banyak para pekerja sudah di PHK dan diberhentikan yang membuat para pegawai tak lagi mampir ke rumah makan. Kedua, makan yang dibatasi dengan waktu hanya 20 menit. Ketiga, para pengendara motor ataupun ojek Online sudah jarang mampir ke wartegnya.

“Meskipun harganya murah karena ini warteg, tetap saja sepi, karena adanya PPKM Level 4 dan banyak pegawai pabrik langganan saya di PHK,”ujar Ia menceritakan.

Dia menuturkan bahwa kini omsetnya turun sekitar 40 hingga 50 persen. Bahkan Nur mengatakan kalau jumlah porsi lauk di etalase menu warteg dikurangi hingga setengah porsi. Selain menu Ikan dan Ayam, Menu lainnya yang masih dipertahankan oleh Nur untuk mencari rezeki.

“Sekarang mencapai 40 hingga 50 persen omzet turun,  dan sudah dikurangi untuk menu lauknya, kaya Menu Ikan, Ayam, Dan Daging, Sisanya saya pertahankan untuk menu Tempe Orek, tahu, mie, kentang, tumisan kangkung, acar dan gorengan. Karena lauk selain jenis Ikan dan Ayam yang justru cepat habisnya,”ucap Nur dengan nada rendah.

BACA JUGA :  Berbagi Kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha, Aliansi Wartawan Utara Berqurban

Nur Solihin membuka usaha Warteg sejak 2015, dan memiliki satu orang pegawai untuk membantunya, Nur berharap bahwa pandemi Covid 19 cepat berlalu, karena bayak usaha Warteg di sekelilingnya tutup karena tak kuat membayar sewa dan gaji karyawan.

Heri (37), salah seorang langganan makan di warteg mengucapkan, sebagai pekerja salah satu perusahaan dikawasan Hyundai Jababeka Cikarang, ia menganggap kebijakan makan dibatasi 20 menit, membuat Heri tak bisa bebas dan harus makan terburu buru. Dan kini Heri hanya membeli nya dengan cara di bungkus dan memakannya di kosan ataupun di tempat kerja.

“Saya pekerja pabrik yang memang suka makan di warteg, saya juga terganggu dengan kebijakan makan dibatasi 20 menit, karena gak bisa bebas dan terburu buru,”tutup Heri.(Ade)

banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 20x50 banner 20x50 banner 20x50
  • Bagikan
error: POTRETJABAR.COM