Kesulitan BBM, Nelayan Muaragembong Terancam Kelaparan

PJ.BEKASI – Ratusan nelayan di Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi, menghadapi ancaman serius akibat sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.

Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas melaut, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian keluarga nelayan, bahkan berpotensi menyebabkan anak-anak mereka putus sekolah.

Keluhan tersebut disampaikan oleh AL, seorang nelayan asal Desa Pantai Bahagia. Dalam sebuah video yang beredar pada Kamis (23/04/2026), ia mengungkapkan bahwa sudah satu hingga dua hari para nelayan tidak dapat melaut karena kesulitan memperoleh solar.

“Assalamualaikum, nelayan Muara Bendera. Sudah satu dua hari tidak bisa melaut karena solar susah didapat. Mau ke pom juga sulit, jaraknya jauh. Akhirnya banyak yang tidak melaut,” ujar AL dalam video tersebut.

Menurutnya, kondisi ini sangat mengancam kehidupan para nelayan yang menggantungkan penghasilan harian dari hasil tangkapan laut. Tanpa melaut, mereka tidak memiliki sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Menanggapi situasi tersebut, Kepala Desa Pantai Bahagia, Maman, mengaku prihatin sekaligus kebingungan. Ia menjelaskan bahwa nelayan mengalami dilema dalam memperoleh BBM bersubsidi.

Di satu sisi, mereka membutuhkan solar untuk bekerja, namun di sisi lain, cara distribusi yang dilakukan secara kolektif kerap dianggap sebagai penimbunan dan berpotensi melanggar hukum.

“Betul, nelayan saat ini sedang kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Kalau membeli dengan cara diambil dari Batujaya, Karawang, lalu diangkut menggunakan perahu, seringkali dianggap penimbunan dan bisa menjadi persoalan hukum,” ungkap Maman.

Ia berharap pemerintah dapat segera memberikan solusi konkret agar distribusi BBM bersubsidi untuk nelayan dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan persoalan hukum.

Menurutnya, kemudahan akses terhadap solar sangat penting karena menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat pesisir secara luas.

Kondisi ini menjadi perhatian serius, mengingat nelayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang sangat bergantung pada ketersediaan BBM untuk menjalankan aktivitas ekonomi mereka.

Tanpa solusi yang tepat, krisis ini dikhawatirkan akan semakin memperburuk kesejahteraan masyarakat Muaragembong.

(End)










Tutup
error: POTRETJABAR.COM