BEKASI  

Gegara Jembatan, Dewan Sebut Perencanaan DSDABMBK Asal “Goblek’

PJ.BEKASI – Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bekasi hu Saiful Islam keritik pedas kinerja Dinas Sumber Daya Alam Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK). Kritikan itu mengarah pada pembanguan jembatan yang berpotensi mangkrak di Kecamatan Muaragembong karena perencanaan yang dinilai asal.

“Kalau untuk gagal perencanaan bisa begitu, artinya Dinas dalam hal ini kurang cekatan lah kurang teliti begitu, seharusnya dikaji dulu segala macam bisa jadi ini kajiannya asal Goblek lah begitu ya, kurang tepat lah begitu ya kan, ini nanti kita pertanyakan di rapat kerja dengan mitra Komisi tiga begitu bang,”paparnya Saiful Islam, Sabtu (29/10/22).

Politisi Fraksi PKS itu menduga pembangunan dua jembatan yang merubah teknis konstruksi menjadi penyebab gagalnya perencanaan.

Sejatinya lanjut Ia, sebelum pelaksanaan pembangunan sudah ada perencanaan yang matang. Jika tiba tiba ada perubahan teknis konstruksinya membuktikan kuat dugaan perencanaan yang asal.

Perubahan teknis itu ujar Ia, dilakukan jika terdapat kondisi adanya bencana alam atau faktor alam lainnya.

“Soal itu kan ini ada faktor alam, faktor alam itu kan tidak bisa memprediksi ia kan, kalau pun memang itu memakai uang rakat. Ia memang karena ada faktor alam itu! Jadi tidak ada yang ini lah kalo bicara rugi kita semua rugi. Tapi karena ini ada faktor alam sehingga harus merubah DED harus merubah perencanaan jadi mau tidak mau itu harus dilakukan karena kalo tidak ada perubahan, kalau di bangun ambrol itu jembatan, bagai mana?,”sambung Ia.

BACA JUGA :  Gak Mau Mangkrak, Jembatan Muaragembong Dilanjutkan

Sebelumnya, Kepala DSDABMBK, Hendri Lincoln di lokasi pembangunan jembatan, Kamis (27/10/22) mengatakan penyebab mangkraknya piranti menyebrang itu karena adanya perubahan teknis konstruksi. Juga kata dia, hal itu terjadi setelah dimulainya pekerjaan dan didapati adanya perbedaan kultur tanah, sehingga konsultan bersama DSDABMBK terpaksa membuat kajian ulang dan merubah teknis pekerjaannya.

“Ini kan saya dapat laporan dari Pak Kabid ya, bahwa adanya adendum 30 hari (Sebulan), adanya perubahan dari pondasi bawah yang tadinya menggunakan boorfile menjadi tiang pancang, kenapa bisa berubah karena ada penelitian tanah kembali. Namanya boorllof.,”kata Hendri di lokasi.

“Pertama di boorfile itu ada namanya lensa atau kerikil-kerikil nanti kalo kita paksakan menggunakan boorfile dikhawatirkan tidak mendukung konstruksi di atasnya, karena jembatan ini kontruksi bukan pengerasan jadi perlu struktur yang kuat,” kata Hendri menambahkan.

BACA JUGA :  Barang Expired Dijual, Tujuh Pelaku Terancam Bui Lima Tahun

Hendri juga menyebut, pihaknya tengah membuat rubahan teknis pekerjaannya dan membantah pengerjaan jembatan tersebut gagal perencanaan.

“Tidak bisa dibilang gagal perencanaan, karena memang ini kan sipatnya konstruksi yah. Konstruksi itu tadi saya bilang harus kuat, kalo gagal itu tadi kalo sudah jadi misalkan dia patah dia roboh,” papar Hendri.

Perlu diketahui, dua titik lokasi pekerjaan tersebut berada di Desa Pantai Mekar dengan pelaksana Kegiatan CV. Taduan Humora Sejahtra dengan nama kegiatan, Pembangunan Jembatan Kantor Desa Kampung Gaga Desa Pantai Mekar, Dengan Nilai Kontrak Rp2.233.202.090 dengan masa kontrak berakhir 17 oktober 2022.

Selanjutnya, proyek jembatan lainnya berbeda. Proyek ini berjudul Pembangunan Jembatan Sekolah SDN 02 Mekar, Kampung Muara Kuntul, dengan nilai kontrak Rp.2.202.563.971.00, di menangkan Cv. Putra Buana Mandiri dengan batas waktu pekerjaan 17 oktober 2022. (end)

error: POTRETJABAR.COM