Hadapi Kemarau, BPBD Imbau Masyarakat Hemat Air
PJ.BEKASI — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mengimbau masyarakat untuk menghemat dan menggunakan air secara bijak menyusul kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi.
Dampak kekeringan saat ini tercatat terjadi di 15 kecamatan dengan 245 titik terdampak. Kondisi tersebut membuat ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah semakin terbatas.
Kepala BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan imbauan kepada masyarakat telah disampaikan sejak beberapa bulan terakhir sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
“Dari awal 2 atau 3 bulan yang lalu kita juga sudah berikan imbauan-imbauan kepada masyarakat,” ujar Muchlis.
Menurut Muchlis, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan karena keterbatasan sumber air berpotensi semakin parah apabila kemarau berlangsung lebih panjang. Masyarakat diminta tidak menggunakan air secara berlebihan dan memprioritaskan kebutuhan pokok.
BPBD Kabupaten Bekasi juga terus memantau wilayah yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Distribusi bantuan air dilakukan berdasarkan laporan masyarakat maupun pemerintah wilayah yang terdampak.
Salah satu wilayah yang mengalami kondisi cukup berat berada di Kecamatan Cibarusah. Menurut Muchlis, sejumlah desa di wilayah tersebut memiliki keterbatasan sumber air tanah sehingga membutuhkan penanganan khusus.
“Memang kelemahan yang ada di kita, di beberapa desa yang ada di Kabupaten Bekasi ini, terutama di Cibarusah, itu memang di bawahnya tidak ada sumber air,” jelasnya.
BPBD Kabupaten Bekasi mengingatkan masyarakat untuk mempersiapkan kebutuhan air sejak dini. Berdasarkan informasi BMKG yang diterima BPBD, kondisi kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober.
Sementara itu, fenomena El Nino yang berdampak terhadap kondisi kekeringan di Kabupaten Bekasi disebut berpotensi berlangsung hingga awal tahun depan.
“El Nino-nya ini dampaknya malah sampai awal tahun, sampai Januari. Jadi cukup panjang ini ke depan,” kata Muchlis.
Menghadapi kondisi tersebut, BPBD terus melakukan distribusi air bersih secara masif ke wilayah yang mengalami kekurangan air. Masyarakat yang kesulitan memperoleh air bersih juga diminta segera melapor kepada pemerintah desa, kecamatan, maupun BPBD agar dapat segera ditindaklanjuti.
1.354 Hektare Lahan Pertanian Terdampak
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan air bersih, tetapi juga sektor pertanian.
Data BPBD Kabupaten Bekasi mencatat 1.354 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan, yang tersebar di 15 kecamatan dan 41 desa.
Penanganan kondisi tersebut keterlibatan berbagai pihak. BPBD Kabupaten Bekasi selalu berkoordinasi dengan TNI/Polri, dinas dan instansi teknis, Perumda Tirta Bhagasasi, PMI Kabupaten Bekasi, dunia usaha melalui klaster logistik, serta pemerintah desa dan kecamatan di wilayah terdampak.
Sejumlah kebutuhan yang menjadi perhatian dalam penanganan kekeringan meliputi air bersih, air minum, penampungan air bersih, normalisasi kali dan sungai, serta pembangunan sumur satelit.
BPBD juga mengajak relawan dan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk bersama-sama membantu masyarakat yang terdampak kekeringan.
Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang berlangsung lebih lama.
Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan air secara hemat, menyimpan cadangan air seperlunya, serta segera melaporkan apabila mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
(Lut)











