Harga Migor Melejit Pedagang Gorengan di Bekasi Menjerit

PJ. BEKASI – Hilangnya peredaran minyak goreng (migor) membuat masyarakat menjerit. Sekalipun dapat ditemukan, harga migor melejit selangit. PPKM berkelanjutan pun menjadi kepiluan masyarakat.
Een (45), Pedagang Gorengan keliling di lingkungan Pemkab Bekasi mengatakan dirinya kesulitan mencari migor.
“Harga minyak sekarang Rp.35 ribu selisihnya Rp7 ribu dengan harga semestinya, sementara jual gorengan tetep aja seribu rupiah, untung kita dari mana”,ungkapnya.
Een juga mengeluh, semenjak penyebaran Covid jenis Ormicon di Kabupaten Bekasi penghasilan ikut menurun.
“Udah mahal, dicarinya juga susah, orang kecil kaya saya mau makan apa pak,” keluhnya.
Para pedagang di Pasar Baru Cikarang, Kabupaten Bekasi Jawa Barat, mengaku kesulitan mendapatkan stok minyak goreng murah. Imbasnya, para pedagang masih menjual minyak goreng di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
Zakaria (42) pedagang bahan pokok di Pasar Baru Cikarang mengaku, untuk saat ini dirinya kesulitan dalam mendapatkan pasokan minyak goreng, sehingga harga jual pun masih belum mengalami penurunan, masih berada di harga 18 ribu rupiah perliter.
“Ya disana juga banyak yang kosong, mungkin karena harga terlalu murah kali ya, jadi banyak yang pada nahan” ujar Zakaria, Minggu (13/2/2022).
Bahkan kata Zakaria, sejak Pemerintah menetapkan harga minyak goreng bersubsidi, ditempatnya belum pernah mendapatkan pasokan.
“Belum ada sampai sekarang, jadi kami masih jual minyak ya harga lama, katanya tanggal 26 itu pedagang sudah bisa retur harga minyak yang mahal kemudian diganti dengan harga minyak yang di harga 14 ribu gitu kan. Kita sampai saat ini belum jelas,” tegasnya.
Senada dengan Zakaria, Desi (40) pedagang lainnya yang ada di Pasar Baru Cikarang mengungkapkan, stok minyak goreng mulai susah didapatkan, ditambah para pembeli banyak yang berbelanja di minimarket untuk mendapatkan minyak goreng murah.










