Jadi Langganan Banjir, BPBD Bentuk Destana di Kecamatan Sukakarya

  • Bagikan
IMG 20211019 WA0000

PJ. BEKASI – Menjadi daerah langganan banjir akibat meluapnya Kali Ciherang saat musim hujan tiba, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi,membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kecamatan Sukakarya

“Hari ini dibentuk, karena Kecamatan Sukakarya masuk dalam wilayah rawan bencana alam, yaitu bencana banjir,”ujar Kasie Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagan BPBD Kabupaten Bekasi Ani Heryani kepada potretjabar.com usai memberikan pembekalan kepada relawan, di Yappenda, Desa Sukakarya, Kecamatan Sukakarya, Senin (18/10/21).

Menurut Ani, pembentukan Destana di wilayah rawan bencana telah rutin dilakukan BPBD Bekasi, diantaranya pada, 2017 dibentuk sebanyak 21 desa, 2020 dua desa dan 2021 sebanyak tujuh desa.

BACA JUGA :  Tak Kunjung Dapat Rutilahu, Akhirnya Baznas Kabupaten Bekasi Bangun Rumah Nurcahya

“Secara keseluruhan sudah ada 30 Destana yang sudah dibentuk,” bebernya.

Pembentukan Destana ditegaskan Ani penting dilakukan di wilayah rawan bencana. Karena Destana nantinya menjadi desa yang memiliki kemampuan mandiri untuk beradaptasi dalam menghadapi ancaman bencana, serta memulihkan diri dengan segera dari dampak bencana yang merugikan.

“Para relawan yang sudah dibentuk akan diberikan pelatihan, seperti cara menyiapkan perahu karet, cara memasang tenda dan cara mengemudikan perahu karet untuk mengevakuasi warga jika terjadi banjir. Nantinya, jika terjadi banjir mereka sudah siap karena sudah diberikan pelatihan,” tukasnya.

BACA JUGA :  Legislator Gerindra Gelar Reses, Warga Banyak Usulkan Infrastruktur Juga Sarana Ibadah
IMG 20211019 WA0001

Sementara, Kasie PMD Kecamatan Sukakarya Dudin mengungkapkan dari tujuh desa yang ada di wilayah Kecamatan Sukakarya terdapat lima desa yang masuk kategori rawan bencana banjir, yaitu Desa Sukamakmur, Sukakarya, Sukajadi, Sukakarsa dan
Sukalaksana.

“Ada lima desa. Semuanya berada di aliran Kali Ciherang,’ jelasnya.

Setelah pembetukan Destana, pihaknya mendorong agar setiap desa membentuk kelompok sebanyak 20 orang disetiap desanya untuk menjadi relawan.

“Setelah mendapat pelatihan di BPBD, kelompok relawan ini akan menjadi pelopor atau penggerak kegiatan pengurangan resiko, jika terjadi bencana diwilayahnya,” pungkasnya (mar).

  • Bagikan
error: POTRETJABAR.COM