BEKASI  

Penambahan Lahan TPA Burangkeng Dinilai Bukan Solusi

Tumpukan sampah di TPA Burangkeng.

PJ.BEKASI – Ramai-ramai sejumlah orang berpendapat pengolahan akhir sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi tidak efesien. Hal ini karena menanggapi insiden longsor disejumlah titik beberapa hari lalu di TPA Burangkeng.

Tak hanya itu, kejadian longsornya TPA bahkan dituding syarat politis untuk penambahan lahan TPA dan mengharapkan keuntungan sejumlah pihak saja.

Hal ini pun langsung berujung buruk terhadap produsen sampah sayur-mayur di sejumlah pasar. Tumpukan sampah hingga empat meter di Pasar Baru Cikarang kian menggunung dan mengeluarkan bau busuk.

Hingga berita ini di lansir, Kamis (13/10/2022) berbagai jenis sampah kian menjulang karena aktivitas pedagang masih berlangung. Kondisi ini pun diakui Pelaksana Kebersihan Pasar Baru Cikarang, Edy Purwanto.

“Ya bang katanya sih TPA udah bisa beroperasi lagi,” kata Edy.

BACA JUGA :  Polisi Tangkap Dua Pelaku Penggelapan Mobil di Bekasi

Meski sudah disiarkan disejumlah kanal berita TPA Burangkeng sudah kembali pulih, faktualnya hingga Pukul 8.36 WIB sampah di Pasar Baru Cikarang masih belum diangkut.

Pasca longsornya TPA Burangkeng, Pemkab Bekasi harus menutup TPA setidaknya hingga tiga hari. Di hari pertama ditutupnya TPA, antrean belasan truk yang membawa sampah langsung mengular. Selain menimbulkan kemacetan di ruas-ruas jalan sekitar TPA, bau busuk pun tak terelakkan.

Tokoh Pemuda Kabupaten Bekasi, Maha Rira juga menanggapi hal ini. Kata dia, krusialnya permasalah persampahan di Kabupaten Bekasi tidak diimbangi dengan peraturan yang tajam.

Kurangnya tanggungjawab produsen berbagai produk yang masih bergantung hanya pada penggunaan bahan-bahan yang sulit terurai alam seperti plastik, styrofoam maupun bahan logam. Ditambah dengan kurang memadainya prasarana dan sarana pengelolaan persampahan, serta penegakan hukum yang belum maksimal.

BACA JUGA :  Peduli Gempa Cianjur, Kejari Kab. Bekasi Beri Bantuan

“Betapa krusialnya permasalah persampahan ini, yang tiap tahun semakin bertambah. Penambahan timbulan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga dari tahun ke tahun disebabkan bertambahnya jumlah penduduk dengan pesat, yang belum bisa diimbangi dengan sejumlah hal lain,” papar lelaki yang akrab disapa Rira itu.

Menurut Rira, longsornya TPA burangkeng selain musim penghujan (fenomena alam) juga jumlah sampah residu yang berakhir di TPA dinilai tidak seimbang dengan tingkat daur ulang yang rendah.

“Diduga terlalu banyak calo tanahnya. Penambahan lahan di Burangkeng bukanlah menjadi solusi utama. Yang harus dipikirkan Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk bertindak di TPA adalah pendaur ulang ditambah, pengolahan secara modern dengan teknologi,” ungkap Rira.(rm/ful)

error: POTRETJABAR.COM