Petani di Bekasi Terhimpit Banjir, Solusi Pemerintah Dinanti

PJ.BEKASI – Banjir yang terus berulang melanda kawasan pertanian di Kabupaten Bekasi tak lagi bisa dianggap sebagai musibah alam semata. Bagi para petani, banjir adalah ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup.

Sawah terendam, tanaman rusak, modal tanam habis, dan harapan panen lenyap. Ironisnya, situasi ini terus terjadi hampir setiap tahun tanpa solusi menyeluruh.

Petani berada pada posisi paling rentan ketika banjir datang. Mereka bukan hanya kehilangan hasil panen, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan utama. Bantuan pascabanjir kerap bersifat sementara, sementara akar persoalan banjir pertanian belum disentuh secara serius.

‎Persoalan utama banjir pertanian bukan sekadar tingginya curah hujan, melainkan lemahnya tata kelola air. Pendangkalan sungai, tanggul yang rapuh, saluran irigasi yang tersumbat, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali terus memperparah kondisi.

Dalam situasi ini, petani akhirnya menjadi korban dari kebijakan pembangunan yang dinilai tidak berpihak pada sektor pertanian.

‎Kondisi makin memprihatinkan ketika banjir surut. Petani masih harus memikirkan biaya tanam ulang. Tanpa benih, pupuk, dan modal yang memadai, mustahil mereka dapat bangkit dengan cepat.

Program asuransi pertanian yang digadang-gadang sebagai solusi perlindungan pun dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh petani kecil di wilayah pedesaan.

‎Menanggapi banyaknya lahan pertanian yang terdampak banjir, Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Ani Rukmini menyatakan akan menindaklanjuti keluhan para petani pekan depan.

‎“Saya tindak lanjuti dalam rapat kerja pekan depan dengan Dinas Pertanian,” ujarnya singkat.

‎Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi Pemerintah Kabupaten Bekasi agar tidak lagi menjadikan banjir pertanian sebagai persoalan musiman.

Normalisasi sungai, perbaikan tanggul, serta penataan sistem irigasi harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan, seiring dengan perlindungan ekonomi bagi petani.

‎Petani tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin sawahnya aman, tanamannya tumbuh, dan jerih payahnya tidak hilang sia-sia akibat banjir yang seharusnya bisa dicegah. Jika persoalan ini terus dibiarkan, bukan hanya petani yang dirugikan, tetapi juga masa depan ketahanan pangan Kabupaten Bekasi.

(Lut)










Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup
error: POTRETJABAR.COM