Tak Ada Sarana Evakuasi, Warga Pebayuran Terpaksa Bertahan di Rumah
PJ.BEKASI – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bekasi dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir besar. Ribuan warga terdampak, termasuk di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran. Ironisnya, keterbatasan sarana evakuasi dan minimnya bantuan membuat banyak warga terpaksa bertahan di rumah, meski air terus meninggi.
Kepala Desa Karangharja, Sukarma, mengungkapkan bahwa banjir merendam ratusan rumah warga di sejumlah RT, dengan ketinggian air bervariasi mulai dari 40 sentimeter hingga mencapai 1 meter. Kondisi terparah terjadi di Kampung Kobak Ceper.
“Air masih terus naik. Di Kampung Kobak Ceper ketinggian air sudah mencapai satu meter. Ini sangat membahayakan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan ibu hamil,” ujar Sukarma, Minggu (25/1/2026).
Parahnya, sarana dan prasarana evakuasi sangat terbatas. Pemerintah desa hanya memiliki satu unit perahu karet, sementara sisanya mengandalkan tiga perahu kayu milik warga.
“Sampai sekarang belum semua warga bisa dievakuasi. Perahu karet cuma satu. Selebihnya kami pakai perahu kayu warga. Kondisi ini jelas sangat tidak ideal,” tegasnya.
Akibat minimnya alat evakuasi, sebagian besar warga terpaksa bertahan di rumah masing-masing, meski genangan air terus bertambah. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius, terutama jika debit air kembali meningkat.
Sukarma menyebut, banjir kali ini diduga kuat disebabkan oleh tingginya curah hujan yang diperparah oleh air kiriman dari sejumlah sungai yang bermuara di wilayah Pebayuran.
“Air kiriman memperparah kondisi. Aliran sungai tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke permukiman,” jelasnya.
Selain persoalan evakuasi, kebutuhan dasar pengungsi juga belum sepenuhnya terpenuhi. Hingga kini, tenda pengungsian dan dapur umum masih sangat terbatas, sementara warga sangat membutuhkan bantuan logistik mendesak.
“Kami mohon perhatian serius dari pemerintah, baik pusat maupun daerah. Warga sangat membutuhkan sembako, air bersih, dan makanan siap saji,” harap Sukarma.
Hal senada disampaikan Relawan Destana Desa Karangharja, Udin. Ia menegaskan bahwa banjir bukan hanya disebabkan hujan lokal, melainkan juga luapan dari beberapa sungai besar.
“Air kiriman dari Kali Kiwing, Kali Ciherang, dan Kali Kobak Rante memperparah banjir. Ini bukan kejadian baru, hampir setiap tahun terjadi,” ungkap Udin.
Berdasarkan data sementara Destana Desa Karangharja, banjir telah menggenangi lebih dari 800 rumah warga, dengan ribuan jiwa terdampak, di antaranya:
RT 04/02: 50 rumah, 65 KK, 92 jiwa
RT 05/02: 134 rumah, 147 KK, 279 jiwa
RT 06/02: 163 rumah, 182 KK, 351 jiwa
RT 07/03: 147 rumah, 184 KK, 368 jiwa
RT 08/03: 171 rumah, 213 KK, 532 jiwa
RT 09/03: 146 rumah, 178 KK, 328 jiwa
Melihat skala dampak yang begitu besar, warga dan relawan menilai respons pemerintah belum sebanding dengan kondisi darurat di lapangan. Mereka mendesak adanya bantuan lanjutan berupa tenda pengungsian, dapur umum, tambahan perahu karet, perlengkapan bayi, serta pasokan makanan dan air bersih.
“Yang kami butuhkan sangat jelas: tenda, dapur umum, perahu karet, perlengkapan bayi, mie instan, dan air mineral. Ini kebutuhan mendesak,” tegas Udin.
Meski demikian, pihak desa tetap mengapresiasi peran Muspika Kecamatan Pebayuran, aparat TNI-Polri, relawan, dan para donatur yang telah turun langsung membantu warga.
Namun tanpa dukungan serius, terencana, dan terkoordinasi dari pemerintah daerah maupun pusat, warga khawatir penanganan banjir akan kembali berjalan lamban seperti tahun-tahun sebelumnya.
Banjir di Pebayuran bukan sekadar bencana alam, tetapi juga cermin kesiapan pemerintah dalam melindungi warganya.
(Lut)











