Bupati Majalengka Digelari Anak Gunung Bangun Kota Pensiun

  • Bagikan
Foto Redaksi
Foto Redaksi

PJ. MAJALENGKA –  Banyaknya program pembangunan fisik yang mulai ditorehkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Majalengka dibawah kepemimpinan Bupati Majalengka Karna Sobahi, mendapatkan apresiasi dari sejumlah kalangan masyarakat. Saat ini gelar yang muncul bagi mantan Wakil Bupati Majalengka dua periode ini yakni anak gunung bangun kota pensiun.

Kata gunung sendiri merujuk asal kelahiran Bupati Karna di Desa Malausma Kecamatan Malausma, atau tepatnya di daerah pegunungan di wilayah selatan Majalengka.

Pria kelahiran Majalengka 3 April 1954 ini, pendidikan formal terakhirnya di Universitas Islam Nusantara dengan gelar doktor di bidang pendidikan. Sedangkan jenjang karirnya dimulai dari seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SDN Gunung Larang Kecamatan Bantarujeg sekitar tahun 1976-1983. Kemudian, beralih menjadi guru SPGN Majalengka dari tahun 1983-1995.

Pada tahun berikutnya, pria yang kini berusia 67 tahun ini, kala itu menjabat Kepala Sekolah SMA PGRI sejak tahun 1995-1999. Setelah itu karirnya terus menanjak dan berpindah tugas dari fungsional ke struktural dan langsung menjabat Kepala Bidang Pendidikan (Dikmen) Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka pada tahun 2000-2003. Karena prestasinya yang menonjol Bupati Hj.Tuty Hayati Anwar mengangkatnya menjadi Kepala Dinas Pendidikan dimulai tahun 2003-2008.

BACA JUGA :  PSU Apartemen Meikarta Dipertanyakan

Selanjutnya, suami dari Hj. Dedeh Nurhayati Karna Sobahi itu beralih tugas menjadi Kepala Dinas Pendidikan Catatan Sipil (Disdukcapil) Majalengka. Pada tahun yang juga sama menjadi dosen Universitas Islam Negeri SGJ Bandung. Saat itu dirinya mulai terjun ke dunia politik, setelah dilamar menjadi calon Wakil Bupati Majalengka berpasangan dengan H. Sutrisno, melalui pemilihan kepala daerah langsung (Pilkadasung).

Akhirnya ia terpilih menjadi Wakil Bupati Majalengka dua periode bersama Bupati Sutrisno pada periode 2008-2013 dan periode 2013-2018. Selanjutnya ia menjabat bupati sementara dan mencalonkan diri menjadi Bupati Majalengka periode 2018-2023.

“Saya lahir dari seorang anak petani biasa. Tapi saya bercita cita semasa hidup saya berusaha menjadi orang bermanfaat bagi bangsa dan negara ini,”kata Karna di sela sela mengikuti silaturrahami secara virtual 10 orang calon kepala daerah penerima anugerah kebudayaan dari PWI Pusat, Senin (11/1/21) di Gedung Yudha Pemkab Majalengka.

Menurut pria yang dikenal ramah dan dermawan ini, Majalengka memiliki segudang potensi yang luar biasa dan hal itu belum sepenuhnya tergali secara maksimal. Namun demikian, pihaknya akan berupaya keras membangun Majalengka ke arah yang lebih baik.

“Majalengka dulu itu dikenal sebagai Kota Pensiun. Namun sekarang secara perlahan-lahan sejak zaman bupati Sutrisno saya wakilnya kala itu. Dan sekarang saya diamanahi jadi bupati Majalengka mulai nampak perubahan pembangunannya,”ujar Ketua DPC PDIP Kabupaten Majalengka ini menambahkan.

BACA JUGA :  Telan Anggaran Rp.25 Juta Labrak Edaran Kemenkes, Kades Setiajaya: Arahan pendamping desa

Masih dikatakannya, pihaknya dalam membangun Majalengka akan bersikap terbuka, bersinergi, berkolaborasi dengan semua kalangan tanpa terkecuali dalam mewujudkan tuntutan rakyat.

“Majalengka saat menjadi titik sentral pembangunan di Jawa Barat bagian timur. Ini ditandai dengan program segitiga rebana dan hadirnya BIJB, Tol Cipali dan Tol Cisumdawu yang tahun ini segera beroperasi. Tentunya ini menjadi potensi yang luar biasa,”paparnya.

Selain itu, dirinya juga ingin menjadikan Majalengka sebagai sentra pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan bertaraf internasional, yang saat ini masih terpusat di Kota Bandung.

“Seiring dengan perkembangan Segitiga Rebana, Majalengka menjadi kiblat baru bidang pendidikan sehingga mampu mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 9% sesuai target Rebana,” tukasnya.

Dia juga berambisi menjadikan Majalengka sebagai sentra kawasan wisata bertaraf internasional yang meliputi wisata alam, wisata religi, agrowisata, sejarah, budaya, dan wisata edukasi, serta wisata kontemporer dengan terus memperhatikan kearifan lokal dan kelestarian. (Sul)

  • Bagikan
error: POTRETJABAR.COM