banner 728x90

[Opini] Ketika Gerobak Sate di Puncak Ceremai

  • Bagikan
Foto Redaksi
Foto Redaksi

Ketika Gerobak Sate di Puncak Ceremai

Narasumber Saksi Hidup :  Dadan (Dand)
Oleh : Rio Febrianaa

POTRETJABAR.COM – Saya seorang mahasiswa semester tujuh yang ditugaskan untuk berangkat ke acara pelestarian alam serta pengibaran bendera merah putih di Gunung Ceremai. Saat itu tahun 1995 dan bertepatan pada pertengahan Agustus. Terbang mewakili Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) di Universitas Pattimura Ambon saya berangkat menuju Bandung sendiri. Sebelum menuju kaki Gunung Ceremai, Kuningan, saya harus terlebih dahulu ke Bandung, karena tempat berkumpulnya beberapa kenalan dari berbagai kampus memutuskan agar berkumpul dahulu di sana.

Persiapan pengibaran bendera dan pelestarian alam yang dilakukan mahasiswa pencinta alam dari berbagai kampus hingga Lembaga Swadaya Masyarakat ini dihadiri seratus orang.

Semua yang mendapatkan undangan, diarahkan ke satu titik di Kuningan. Artinya pendakian ke Gunung Ceremai ini, kami semua menggunakan jalur Palutungan, Kuningan.

Gunung Ceremai adalah gunung dengan ketinggian 3.078 Mdpl. Sebagai gunung tertinggi di Jawa Barat membuat saya melengkapi persediaan pendakian pun saya siapkan dari Bandung, agar saat tiba di kaki gunung sudah siap semuanya. Carrier saya lumayan untuk menampung persiapan. Tingginya melebihi kepala saya. Maklum, saat itu saya gemar sekali santap makanan ringan hingga separuh isi carrier saya berisi makanan ringan. Persediaan itu saya cukupi untuk dua malam.

Matahari belum terlihat di ufuk timur, kami berempat dari kost mahasiswa IKIP Bandung, Ame menuju Kuningan menggunakan bus.

Singkat cerita, jam 4.30 pagi kami berempat sampai di Terminal Kuningan, sebagai umat islam kami berempat melakukan shalat subuh terlebih dahulu. Waktu itu kami shalat di Masjid Agung Kuningan. Dari sini kami berempat kaget saat ajengan yang mengenakan sorban di kepalanya memanggil saya. Sontak saya bersama rekan-rekan saya menghampirinya.

Beliau berbicara sangat lembut kepada kami, menganjurkan agar pendakian kami berempat diurungkan. Karena, kata dia Gunung Ceremai sedang mengalami hal-hal yang tidak wajar. Contohnya, macan kumbang yang turun hampir masuk ke pemukiman, sering terjadi kebakaran, hingga seringnya penduduk setempat melihat makhluk halus yang dipercaya itu adalah Penguasa Ceremai yang bergentayangan.

Kami tidak bisa mengiyakan semua anjuran ajengan tersebut. Karena, saya yang berangkat dari Ambon kesitu membawa tugas dari kampus.

Beliau pun sempat mengusap kepala saya sebanyak tiga kali. Saat itu pun beliau melepas kepergian kami dan berpesan agar tidak mengotori lingkungan serta selalu ingat Tuhan. Kami pun tak lupa mencium tangan, tanda bentuk sopan terhadap ulama.

Kami menuju terminal untuk mencari angkutan umum berjenis pikap saat itu. Tarifnya masih Rp1.500 rupiah perorang. Sekitar 20 menit kami sampai di lokasi dan sudah ramai.

Pendakian ini saya yakin sedikit lambat untuk mencapai Puncak Ceremai. Karena, ruas jalan yang tidak terlalu besar dan antrean ratusan aktivis panjang mengular menunggu giliran. Pukul 06.30 kami masih di basecamp tempat pendaftaran. Mata saya melihat semua sudut, terutama membaca peraturan pendakian.

Delapan pos akan kita lewati untuk mencapai Puncak Ceremai. Pukul 7.00 panitia melepas mahasiswa dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat Pecinta Lingkungan.

Tidak ada yang aneh saat pendakian, nyaris tidak ada sedikitpun. Justru saat itu dalam setiap langkah, saya memanfaatkan momentum untuk sering menoleh ke kanan dan kiri saat merasakan udara dinginnya pegunungan dari sejuk anginnya. Rindu gunung saya terobati di situ.

Ratusan aktivis melewati pos ke pos. Mulai dari Cigowong, Kuta, Paguyangan Badak, Arban, Tanjakan Asoy, Pasanggrahan, Sanghyang Gopoh, hingga Pos 8 – Goa Walet dan sampailah di Puncak Ceremai pukul 18.15. Dalam pendakian itu kami menghabiskan waktu tidak kurang dari sebelas jam. Sangat melelahkan. Belum bisa kami melepas lelah kala itu, kami harus dirikan tenda untuk beristirahat pada malam harinya.

BACA JUGA :  Kemerdekaan Adalah Menjunjung Tinggi Nilai Spirit Keagamaan, Persatuan dan Kesatuan Dalam Berbangsa

Singkat cerita, tidak ada aktivitas malam itu karena kami diminta untuk segera istirahat oleh panitia. Malam berganti pagi, pengibaran bendera pun dimulai. Kami resapi dengan khidmat saat sekumpulan wanita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Selepas acara tersebut, kami diminta untuk membentuk tim oleh panitia. Satu tim yang terdiri dari delapan orang itu diminta untuk mengambil sampah-sampah plastik yang membuat kotornya Puncak Ceremai.

Selain sampah yang menurunkan karisma gunung tertinggi di Jawa Barat ini, kotoran pendaki yang tidak dikubur juga membuat sesak nafas kala itu. Sangat tidak mencerminkan pendaki sejati jika tidak memiliki inisiatif serendah itu.

Mapala IKIP, Ame, kala itu satu tim dengan saya, dalam setiap langkah saat memunguti sampah saya mengajaknya untuk camp sehari lagi di Puncak Ceremai. Tak menunggu lama, Ame menjawab bersedia dan sangat senang ada yang mengajaknya.

Acara pengibaran bendera dan pelestarian lingkungan usai. Langsung saja saya dengan Ame menghampiri panitia untuk meminta izin menginap sehari lagi di situ. Ternyata, saat kami sedang berbincang dengan panitia, ada beberapa aktivis juga meminta hal yang sama dengan saya. Beberapa belas menit kami berbincang dengan panitia, akhirnya permintaan kami diizinkan.

Total tersisa di puncak hanya ada enam tenda dengan sebelas mahasiswa serta tiga orang dari Lembaga Swadaya Masyarakat. Pukul 16.30 kami mencari kayu bakar untuk api unggun serta memasak nanti malam.

Huuuuuuussss….. Angin kencang menabrak wajah saya dan bulu kuduk sontak meremang hebat. Saya baru sadar, kami akan bermalam di sini pada malam Jumat. Sesekali mata saya jelalatan melihat antar pepohonan. Seperti ada yang terbang dari dahan ke dahan. Tapi saya tidak pedulikan, saya fokus untuk mencari kayu saja.

Pukul 20.00 api unggun sudah menjilat-jilat, tapi udara dingin masih saja kuasa hingga menusuk-nusuk tulang rasanya. Suara angin ada di ujung telinga, bulan sabit yang tidak terlalu terang membuat ujung pandangan menjadi siluet hitam. Kata Ame, malam itu sangat khas sekali panorama alam Ceremai.

Tenda satu sama lainnya berdekatan, dari sore kami sepakat menyusunnya seperti itu. Kami banyak berbincang, hingga saya lihat jam tangan saya sudah memasuki pukul 22.00. Sebagian dari kami sudah berisitirahat. Saya yang belum mau berisitirahat, masih ditemani lima rekan mahasiswa, termasuk Ame.

“Sate-sate, mau beli sate enggak kang…” kata abang pedagang tukang sate yang memiliki postur tubuh setengah gemuk itu.

“Kang sate satu porsi ya, lontongnya dua ya kang,” kata Ame yang memesan dan membuat teman-teman mahasiswa yang lainnya terbangun dan ikut memesan, termasuk saya.

Kibasan pedagang sate itu tidak jauh jaraknya dari kerumunan tenda, sekitar 7-8 meter. Satu persatu pesanan kita ambil. Semua memakan dengan lahap. Tidak ada pikiran aneh apapun dari kami. Apalagi untuk bertanya bagaimana cara pedagang sate tersebut mendaki dengan mendorong gerobaknya ke puncak gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Tidak ada sedikitpun.

Memasuki pukul 03.00 dini hari, pedagang sate itu masih di Puncak Ceremai bersama kami. Kipasnya masih dikibas-kibaskannya karena selalu ada sate di atas bara. Padahal diantara kami sudah tidak ada yang memesan. Asap yang mengepul di atas gerobaknya, membuat wajahnya tertutup. Kami sangat sadar saat itu Pukul 3.00, tapi kami masih belum sadar bagaimana di atas Puncak Ceremai ada pedagang sate.

BACA JUGA :  Hari Anak Nasional "Lindungi Anak Indonesia Maju"

“Akang naik dari mana.” tanya salah seorang mahasiswa. “Linggarjati.” jawab sinisnya.

Andai saja ketika itu di antara kami ada yang sadar, saya adalah orang pertama yang lari sekencang-kencangnya.

Di sini mulai keanehan berikutnya. Serentak yang menggunakan jam tangan melihat jam tangannya masing-masing. Saya melihat jam yang saya kenakan itu menunjukkan pukul 03.30. Posisi saat itu saya sedang duduk berkerumun membuat lingkaran dengan yang lainnya. Tiba-tiba pedagang sate tersebut memutar gerobaknya dan lari sangat cepat sambil berteriak “Pulang kalian pengganggu.” dan menghilang.

Langsung saja, lingkaran itu pecah. Kami lari masuk kedalam camp, kali ini tidak beraturan. Sampai-sampai ada salah seorang masuk ke camp yang hanya berisi dirinya sendiri, terpaksa keluar lagi dan masuk ke camp lainnya.

Tak panjang lebar, kami riuh di dalam camp. Kami tidak peduli berdesak-desakan hingga matahari terbit. Hingga pukul 7.00 saat matahari sudah hangat, kami baru berani keluar dan bergegas untuk pulang. Kami packing dan tak lupa untuk membersihkan sampah-sampah bekas kami agar bisa dibawa turun ke basecamp.
……
Ucapan mahluk halus yang menyamar sebagai pedagang sate itu masih terngiang-ngiang di otak saya hingga kisah ini saya ceritakan dengan Rio Febriana. Sate yang saya makan di Puncak Ceremai itu juga hingga kini, saya masih ingat rasanya.
…….
Sesampainya saya di basecamp, saya dan lainnya pun tidak bercerita kepada siapapun atas kejadian yang kami alami. Saya bertekad menelannya untuk dijadikan pengalaman dan cerita kelam saja, kecuali ada yang bertanya.

Saya dan teman mahasiswa lainnya beristirahat cukup lama di basecamp. Hingga pukul 17.20 kami berpencar di Terminal Kuningan.

Foto Redaksi
Foto Redaksi

Menjelang Maghrib, saya mengajak Ame dan dua temannya untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu di Masjid Agung Kuningan, tempat saya dan teman-teman diberikan ‘wejangan’ ajengan.

“Me kita shalat dulu yah, sudah mau Maghrib,” kata saya. “Iya Dand, hayu,” jawab Ame.

Selesai shalat, mata saya melihat ke setiap sudut untuk mencari Ajengan itu. Namun disetiap baris, Ajengan itu tidak ada.

“Adek cari siapa, kayanya ada yang dicari.” seseorang bertanya pada saya.

“Saya sedang cari Ajengan yang menggunakan sorban putih di kepalanya pak, kayanya hari ini beliau enggak shalat di sini ya,” kata saya.

“Ciri-cirinya bagaimana dek.” tanya dia lagi.

“Cirinya tinggi, menggunakan gamis, berjenggot putih tidak terlalu panjang, menggunakan sorban putih di kepalanya,” jawab saya.

“Adek baru saja naik Ceremai yah?.” tanya orang itu kepada saya.

“Iya pak, saya dan teman-teman baru saja turun dari Ceremai,” jawab saya lagi.

“Mestinya malam 1 Syuro jangan dulu naik dek, bahaya.” kata dia juga. Bak di sambar petir ucapan bapak itu yang juga membuat mulut saya terbuka.

Aku duduk di teras masjid sambil bersandar di tiangnya. Saat itu banyak sekali tanda tanya menghujam kepala saya. Tak habis pikir dengan apa yang telah terjadi di Puncak Ceremai. Hingga perjalanan pulang teror mistis sate masih saja ada. Pun tentang ucapan dan keberadaan bapak-bapak yang mengenakan pakaian serba putih itu yang paling dominan menguasai kepala ini. Hati ini tak dapat pungkiri, apakah yang berjubah putih itu orang yang dikirim Tuhan untuk mengingatkan saya dan pendaki lainnya?. Atau dia perwakilan bangsa lelembut yang bertugas menyampaikan pesan dari Penguasa Ceremai?.

Pengalaman 1995 di Puncak Ceremai tak akan saya lupa hingga tua renta.

Penulis : Rio Pebriana
Editor : Endang Firtana

banner 728x90 banner 728x90 banner 728x90 banner 20x50 banner 20x50 banner 20x50
  • Bagikan
error: POTRETJABAR.COM